You are here: Home BERITA Anggaran Dinaikkan, Pupuk Bersubsidi Tetap Langka Pupuk Alternatif dibutuhkan

Anggaran Dinaikkan, Pupuk Bersubsidi Tetap Langka Pupuk Alternatif dibutuhkan

PDFPrint

PT Petrokimia Gresik memastikan kelangkaan pupuk bersubsidi akan kembali terjadi pada tahun ini. Penyebabnya, dari 15,2 juta ton kebutuhan semua jenis pupuk, pemerintah hanya mampu memberi subsidi untuk 9,5 juta ton diantaranya.

"Ada selisih 5,6 juta ton pupuk yang tak disubsidi," kata Manajer Humas PT Petrokimia Gresik, Yusuf Wibisono, saat jumpa pers di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa, 24 Februari 2015.

Rincian alokasi pupuk bersubsidi pada 2015 itu yakni Urea sebanyak 4,1 juta ton, SP-36 850 ribu ton, ZA 1,05 juta ton, NPK 2,55 juta ton, dan pupuk organik 1 juta ton. Dari seluruhnya itu, Petrokimia Gresik mendapatkan alokasi penyaluran sebanyak 5,2 juta ton.

Yusuf menjelaskan, kelangkaan akan terjadi sekalipun anggaran subsidi pupuk tahun ini mencapai Rp 28,5 triliun. Anggaran tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar yang sebesar Rp 21 triliun. "Jadi munculnya kelangkaan pupuk, karena kemampuan pemerintah terbatas," kata dia.

Terbatasnya anggaran diperparah dengan distribusi pupuk bersubsidi yang tidak tepat sasaran. Yusuf mengungkapkan, petani yang lahannya lebih dari dua hektare justru memakai pupuk subsidi.

Padahal alokasi pupuk bersubsidi diperuntukkan bagi petani dengan luas lahan kurang dari 2 hektare. Selain itu, pupuk bersubsidi banyak dipakai di lahan-lahan Perhutani. "Perhutani dilarang memakai pupuk bersubsidi," katanya menegaskan.

Untuk menekan tingkat kelangkaan pupuk, Yusuf mengatakan, Petrokimia Gresik saat ini gencar mensosialisasikan pemupukan berimbang. Dalam satu hektare, idealnya, petani memakai 500 kilogram pupuk organik, 300 kg NPK dan 200 kg Urea. "Saat ini, pemakaian urea per hektarenya lebih dari 200 kg," katanya.

Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Banyuwangi, Suyitno, membenarkan jika dosis pemakaian pupuk kimia saat ini sangat tinggi. Dalam satu hektare, kata dia, petani memakai 400-500 kilogram pupuk urea subsidi.

Tingginya dosis pupuk kimia, menurut Suyitno, karena unsur hara tanah semakin menyusut. Itu hanya bisa diatasi apabila pemerintah daerah memfasilitasi pembuatan pupuk organik dalam skala besar bagi petani. "Kalau tidak petani akan terus-menerus tergantung dengan pupuk kimia," katanya.

Pemerintah saat ini sudah perlu memikirkan bagaimana mengurangi anggaran untuk pupuk bersubsidi yang sedemikian besar itu. Salah satu cara ampuh dengan menggunakan pupuk pendamping alternatif yang bisa disandingkan dengan pupuk bersubsidi seperti halnya pupuk Super Tani yang diproduksi oleh PT SUPER TANI INDONESIA

Pupuk Super Tani dari berbagai hasil penelitian dan uji coba selama 13 tahun ini di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan mampu mengurangi penggunaan pupuk bersubsidi. Bahkan pupuk Super Tani sudah digunakan oleh Kodam VII Wirabuana dalam menyukseskan Program Ketahanan Pangan di Sulawesi Selatan. Dari Hasil penggabungan pupuk Super Tani dengan pupuk bersubsidi seperti urea ternyata mampu menekan biaya 30 persen dan menggenjot hasil sampai 40 persen.

Ketua kelompok Tani Toducung desa Liliriawang Kecamatan Bengo Kabupaten Bone Rustam Tawil, Senin (25/08/2014) mengatakan " bibit padi yang kami tanam ini merupakan bantuan Kodim 1407 Bone dengan menggunakan pupuk Super Tani ternyata mampu menghasilkan 10,7 ton perhektarnya yang sebelumnya kami hanya mampu memperoleh 5 ton/hektar." Kami pernah mengalami kekurangan pupuk di sini pak, untung ada pupuk Super Tani dan kami mencobanya ternyata hasilnya luar biasa, kami bersyukur ada Super Tani pak." katanya penuh rasa bahagia. " Dalam satu hektarnya kami menggunakan Super Tani 13 kg yang dicampur Urea 3 zak hasilnya sangat memuaskan, menggunakan pupuk Super Tani biayanya murah pak." ujar anggota kelompok tani Mekar.