You are here: Home OPINI Super Tani Siap Menjawab Kelangkaan Pupuk

Super Tani Siap Menjawab Kelangkaan Pupuk

PDFPrint

Super Tani Siap Menjawab Kelangkaan Pupuk melalui Program Ketahanan Pangan Kodam VII / Wirabuana

I..Fenomena dan Pemecahan Masalah

A.Sistem an-Organik, Alternatif Mengatasi Kelangkaan Pupuk Kimia

Ketersediaan hara yang cukup dalam tanah merupakan suatu keharusan bagi tanaman untuk menghasilkan produksi yang memadai. Pada tanah yang subur kandungan hara sudah tersedia dengan cukup. Sekitar 16 jenis unsur hara diperlukan tanaman, baik itu unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Unsur hara makro terdiri dari unsur C, H, N, O, S, P, Mg, Ca, dan K, sedangkan unsur hara mikro terdiri dari unsur Fe, Al, Zn, Mo, B, Bo, Mn, dan yang lainya. Apabila satu atau lebih unsur hara tersebut tidak tersedia maka petumbuhan tanaman akan terganggu.

Kandugan hara di dalam tanah tidak selamanya dapat mencukupi kebutuhan tanaman untuk berproduksi, karena kandungan hara dalam tanah semakin lama semakin berkurang seiring dengan pemanenan yang berulang kali. Guna mencukupi hara dalam tanah yang semakin berkurang maka perlu dilakukan usaha untuk mengembalikan kesuburan tanah, salah satu usahanya adalah dengan pemberian pupuk.

Pupuk yang ditambahkan ke dalam tanah untuk membantu mengembalikan unsur hara yang semakin berkurang dapat berupa pupuk an-organik dan pupuk organik. Pupuk kimia merupakan pupuk sintesis buatan pabrik yang menggunakan bahan kimia. Sedangkan pupuk an-organik merupakan perpaduan pupuk kimia dan organik yang menggunakan bahan dari alam, misalnya kotoran ternak; daun- daunan; dan lain sebagainya.

B.Mengapa Terjadi Kelangkaan Pupuk Kimia di Pasaran ?

Pada umumnya petani menggunakan pupuk kimia untuk membantu menyuburkan tanah. Mereka merasa penggunaan pupuk kimia lebih praktis dan tidak perlu membuatnya. Dengan jumlah pupuk kimia yang tidak terlalu banyak, mereka sudah dapat mendapatkan hasil dari tanaman yang cukup banyak. Hal itulah yang membuat mereka menjadi tergantung pada pupuk kimia.

Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia menyebabkan permintaan pupuk kma semakn meningkat. Hal ini membuat pengusaha pupuk kimia harus dapat menyediakan pupuk kimia untuk kegiatan produksi petani secara terus menerus. Namun, ini tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan baku yang ada. Inilah yang membuat pupuk kimia menjadi langka di pasaran.

Penyebab utama kelangkaan pupuk yang terjadi di Indonesia adalah tidak ada satupun industri di Indonesia cukup kuat pondasinya untuk mempertahankan kelangsungan produksinya. Semua Industri Indonesia khususnya yang berbasiskan bahan baku kimia itu di dapatkan dari import, artinya kandungan lokalnya (Bahan Baku Lokal) tidak lebih dari 20%-30% yang dihasilkan oleh Indonesia untuk suplai industri dalam negeri. Di Sisi yang lain, transaksi dalam Perdangangan Internasional alat tukarnya masih mengunakan Dollar AS. Sementara itu, nilai tukar dollar AS di dalam negeri sepanjang tahun 2014 berada pada kisaran 10.000-12.000/USD.
Penyebab lainnya yaitu Alur distribusi pupuk kimia di Indonesia yang terlalu panjang. Semakin panjang alur distribusi, semakin besar pula risiko pupuk tersebut tidak sampai pada petani. Alur distribusi pupuk yang saat ini berjalan di Indonesia terdiri dari : Lini I (pabrik), Lini II (UPP/Unit pengantongan pupuk), Lini III (Gudang Produsen dan Distributor), Lini IV (Pengecer Resmi), Kelompok Tani/Petani. Belum lagi birokratif lainnya yang masih terjadi oleh oknum tak bertanggung jawab seperti halnya RDKK yang tidak valid, kurangnya sosialisai pihak terkait cara penggunaan dan sasaran mana saja yang diperuntukkan untuk pupuk bersubsidi yang menggerus dana APBN trilyunan rupiah setiap tahunnya.

Berbagai kebijakan telah digulirkan pemerintah untuk mengatasi kelangkaan pupuk ini. Secara umum kebijakan itu mencakup soal produksi, distribusi dan pemberian subsidi. Namun kebijakan tersebut terkesan ambigu dan tidak jelas, karena ;

Pertama, kelangkaan pupuk dipandang sebagai problem teknis semata, sehinga tidak berupaya memotret persoalan secara keseluruhan, seperti arus kuat untuk menyerahkan produksi dan distribusi pupuk nasional ke mekanisme pasar.
Kedua, langkah-langkah pemerintah tersebut sama sekali tidak menjawab sebab-sebab utama kelangkaan pupuk.
Ketiga, tidak ada upaya yang serius dalam pemberdayaan potensi lokal. Sumber daya lokal hanya dijadikan sebagai objek belaka bahkan disinyalir terdapat pembumihangusan potensi lokal melalui mafia kebijakan.

C..Dampak Kelangkaan Pupuk Kimia

Lengkaplah sudah dengan kelangkaan pupuk ini maka semakin memberatkan ekonomi para petani, karena produksi semakin berkurang. Semakin berkungnya pupuk menyebabkan petani harus melakukan budidaya dengan pupuk seadanya, sehingga produksi tanaman yang didapat menjadi kurang optimal. Hasil dan kualitas panen yang menurun drastis bahkan risiko gagal panen menyebabkan pendapatan petani menurun dan harus menanggung semua biaya produksi.

Tak terbayangkan jika dampak kelangkaan pupuk tersebut akan semakin parah ketika petani tidak lagi mempunyai kemauan untuk menanam. Tidak adanya petani yang mau menanam berarti tidak ada bahan makanan yang bisa diolah dan dimakan, sehingga harus import. Oke, Impor mungkin saja dilakukan tetapi tentu harganya akan semakin mahal dan belum tentu aman dari segi kesehatan dan kualitas.. Keadaan tersebut jika berlarut-larut juga akan menggangu Ketahanan Pangan Nasional yang selama ini melibatkan banyak pihak bahkan TNI pun harus turun tangan.

Pertanian adalah sektor vital dalam pertumbuhan dan keamanan suatu negara, sehingga petani harus tetap menanam jika tidak ingin mengalami krisis pangan. Namun demikian petani juga harus difasilitasi dengan berbagai hal yang bisa mendukung terlaksananya pertanian di Indonesia. Bukankah Indonesia dikenal sebagai negara agraris?.

D.Sistem an-organik sebagai Solusi Kelangkaan Pupuk Kimia

Pemerintah diharapkan tidak hanya konsentrasi pada penyediaan pupuk kimia saja, tetapi juga harus diimbangi dengan pencarian alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi kelangkaan pupuk kimia dipasaran. Sebenarnya banyak alternatif yang dapat dterapkan, salah satunya adalah penerapan sistem an-organik (semi organik). Sistem an-organik merupakan penggabungan sistem pertanian organik dengan pertanian non-organik (kimia). Penggabungan sistem ini diharapkan dapat menutupi kekurangan dari masing-masing sistem.

Dengan berbagai kekurangan tersebut, dalam menggunakan pupuk perlu adanya pertimbangan yang tepat. Dalam kegiatan pemupukan pertimbangan penting yang selalu perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil optimal adalah:
1.Kelengkapan dan keberimbangan unsur hara (nutrisi) makro dan mikro yang tersedia;
2.Tingkat penyerapan hara yang tinggi dan efisien;
3.Kesehatan tanaman untuk memperoleh hasil panen yang tinggi;
4.Dengan menggunakan pupuk diharapkan akan terjadi perubahan pada struktur fisik, kimia, dan mikrobiologi tanah ke arah yang lebih baik;
5.Menciptakan kondisi ramah dan tidak merusak lingkungan;
6.Secara ekonomis menguntungkan yaitu biaya pemupukan yang rendah, baik harga pupuk per satuan luas, biaya transportasi, maupun biaya tenaga kerja juga rendah; serta
7.Mudah didapat pada saat dibutuhkan.

Kegiatan pemupukan dengan menggunakan pupuk kimia tidak mendukung pertimbangan kegiatan pemupukan tersebut. Pemupukan dengan pupuk kimia mempunya kekurangan, antara lain:
1.Ketersediaan pupuk yang dibutuhkan dalam jumlah, jenis dan waktu kadang-kala tidak sesuai dengan kebutuhan;
2.Kalaupun pupuk tersedia, harganya tidak cukup ekonomis untuk digunakan;
3.Penggunaan pupuk dalam jumlah dan volume yang besar akan mengeluarkan biaya untuk harga pupuk, biaya transportasi dan tenaga kerja yang besar pula;
4.Aplikasi pupuk kimia dalam volume yang besar pada umumnya tidak efisien karena tidak semua hara yang diperlukan terserap tanaman, sebagiannya menguap atau tercuci karena kondisi tanah yang kurang ideal (berpasir, keasaman tanah terlalu tinggi atau terlalu rendah, lahan gambut, lahan pasang surut, menipisnya kandungan bahan organik, dll);
5.Terjadi penyerapan unsur hara yang agresif pada pertanaman monokultur, sehingga mengganggu keseimbangan unsur hara makro dan mikro;
6.Penggunakan pupuk kimia secara terus menerus dalam waktu lama dan volume besar akan merusak struktur, tekstur dan mikrobiologi tanah serta kapasistas tukar kation.

Kekurangan pupuk kimia tersebut sebenarnya dapat ditutup dengan jalan menggunakan pupuk an-organik pada budidaya pertanian. Pupuk an-organik mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya :
a.Bahan-bahan untuk pembuatan pupuk organik ini mudah diperoleh,
b.Pembuatan pupuk organik secara umum tidak membutuhkan biaya yang mahal,
c.Dapat mengembalikan kesuburan tanah dalam jangka panjang, pembuatannya tidak sulit, petani tidak perlu melalui pelatihan-pelatihan yang mengajarkan teori-teori yang rumit, tidak mengandung zat kimia,
d.Pupuk an-organik juga ramah lingkungan. Yang paling penting dari pupuk an-organik adalah kandungan unsur haranya lengkap, sehingga kebutuhan unsur hara dapat tercukupi semua dengan satu macam pupuk.


Perlu dipahami, bahwa pupuk an-organik itu memberi makan pada tanah, sedangkan pupuk kimia memberi makan pada tanaman. Padahal tanaman mengambil makan dari tanah dan oleh karena itu yang semestinya layak diberi makan adalah tanahnya bukan tanamannya.  Walaupun terdapat kelemahan dari pupuk organik murni adalah butuh waktu yang agak lama, karena pupuk organik butuh diolah terlebih dahulu. Pengolahan tersebut tujuannya agar unsur hara di dalam pupuk organik dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Selain itu, kekurangan pupuk organik tidak menunjukan hasil secara cepat seperti pupuk kimia, karena pupuk organik bersifat slow release, artinya pupuk organik dimanfaatkan oleh tanaman sedikit demi sedikit. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sistem tersebut, maka sistem an-organik (penggabungan sistem organik dan kimia) diharapkan bisa saling melengkapi dan nantinya akan dapat mengatasi kelangkaan pupuk kimia yang selama ini terjadi demi pencapaian Ketahanan Pangan Nasional.

II.Super Tani Siap Menjawab Kelangkaan Pupuk

Dalam rangka mendukung program Ketahanan Pangan Kodam VII Wirabuana demi kesejahteraan masyarakat petani, maka Super Tani siap menjadi Garda terdepan. “SUPER TANI PUPUKNYA TENTARA” demikian yel-yel semangat pada acara sosialisasi di Kodim 1407 Bone, Jumat (27/06/2014).

Super Tani telah membuktikan eksistensinya kepada pemerintah dan petani di berbagai daerah di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan, “ Kami Telah Banyak Membantu Institusi lain, Kini Tiba Saatnya Kami Membangun Institusi Sendiri yaitu TNI-AD, dan Ini adalah Harga Mati bagi Kami” demikian pernyataan Formulator Pupuk Super Tani Kapten Cpl. Andi Undru, S.Sos. pada saat pemaparan di depan peserta sosialisasi penggunaan Pupuk Super Tani di Aula Kodim 1407 Bone, Jumat (27/06/2014). Pernyataan semangat Sang Formulator tersebut spontan mendapat sambutan aplaus dari peserta sosialisasi dari unsur TNI-AD dan kelompok Tani Binaan Kodim 1407 Bone.

Menindaklanjuti kelangkaan pupuk yang terimbas pada Program Ketahanan Pangan Kodam VII / Wirabuana, Super Tani menyatakan Perang melawan Kelangkaan Pupuk. Kami tidak ingin program institusi kami goyah hanya karena kelangkaan pupuk. Demikian pernyataan Formulator Super Tani dengan nada gelegar dengan semangat patriotik sebagai prajurit.
Dalam rangka menyukseskan program ketahanan pangan Kodam VII / Wirabuana, jika selama ini TNI-AD hanya sekadar membantu untuk mengamankan program tersebut  maka untuk selanjutnya TNI-AD melalui garda terdepannya ( Babinsa ) akan terjun langsung selain fungsi pengawalan juga memberi bantuan teknis, aplikasi, dan administrasi pelaporan  kepada para petani sebagai pengguna pupuk Super Tani.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, karena akhir-akhir ini sesuai yang terjadi dilapangan masalah kelangkaan pupuk menggorok leher para petani. Sebagai manusia biasa yang hidup dalam kesederhanaan pribadi Kapten Cpl. Andi Undru, S.Sos. memiliki naluri yang sangat peka terhadap fenomena yang terjadi di lapangan khususnya yang dialami masyarakat petani kita. “ petani sejahtera, negara kukuh “ demikian sambutan terakhirnya pada setiap kegiatan sosialisasi di seluruh Kodim se-Sulawesi Selatan.