You are here: Home OPINI Konsep Produksi yang Produktif

Konsep Produksi yang Produktif

PDFPrint

KONSEP PRODUKSI YANG PRODUKTIF, STRATEGI EKONOMI KERAKYATAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN
OLEH : SANG PEMBAWA SOLUSI
( ANDI UNDRU M,S.Sos. FORMULATOR SUPER TANI)

A.    SELEMBAR SIRIH

Bukan hidup jika tak ada persoalan, Solusi Ada Karena Ada Masalah, dengan sejumlah persoalan membawa kematangan dalam hidup. Ada kalanya, solusi untuk menyelesaikan sebuah masalah bukanlah dengan mencemplungkan dan melibatkan diri semata dalam masalah itu tapi gunakan kemampuan akal dan pikiran.
Ada kalanya, solusi terbaik itu adalah diam, menjauh sejenak, mengamati masalah itu dari ketinggian layaknya sebuah menara. Dari ketinggiannya kita merenung. Sehingga semua sisi masalah terlihat secara menyeluruh, dan kemudian kita bisa kembali sambil membawa solusi yang objektif. Bukankah sebuah tantangan, ketika kita dihadapkan pada masalah, maka menjadi figur seperti apakah kita ? Sang penambah bengkalai ataukah sang pembawa solusi ?
Lampu indikator merah yang tertanam di lengan kiriku menyala saat aku mendekati bahtera penjemput. Kutinggalkan pemuda lugu bergelar profesor universitas Prokontra  itu dengan kepakan kecil yang ternyata hampir membuat sedesa terbangun terkejut.
Teknologi seakan mengakibatkan manusia ingin mengevolusi hitungan satuan waktu yang diterapkan. Tak ada buku panduan yang menjelaskan tentang proses terjadinya rasa penasaran dan keingintahuan disaat menunggu suatu bentuk. Tapi yakinlah berawal dari niat tulus ikhlas Tuhan Tak Pernah Menjanji Tapi Tuhan itu Menentukan dan Memberi Bukti

B.    ABSTRAKSI

Melihat fenomena sekarang negeri ini bisa dikatakan memiliki masyarakat yang cenderung latah dan lemah dalam memfilter informasi yang didapat sehingga tidak heran jika budaya populer berkembang begitu pesat tanpa menelusuru mengapa itu populer. Anak muda sebagai objek perluasan budaya popular terus menerus terlena terbawa arus. Sedangkan media, dengan berbagai konten yang disajikan telah bermetamorfosis menjadi mesin pengeruk uang yang potensial.
Tak heran, ketika landasan kebijakan yang diambil oleh para pemegang otorita kebijakan semakin berorientasi pada program bukannya beriorintasi pada asas mamfaat yang produktif. Dengan demikian, produk-produk yang dihasilkan pun cenderung berdasar pada “selera”  kelompok tertentu daripada pemenuhan fungsi kebutuhan masyarakat.  Sejuta program lahir tak diimbangi dengan sajian yang mencerdaskan khalayak. Geliat persaingan industri di Indonesia dari waktu ke waktu semakin ketat. Masing-masing  berlomba menggaet simpati massa dengan berbagai produk  yang ditawarkan. Selera masyarakat lagi-lagi menjadi objek kaum kapitalis. Polesan demi polesan program terus dikembangkan sesuai selera masyarakat. Sebagai target pasar potensial, keberadaan kaum muda seringkali berhadapan dengan berbagai gempuran sajian media yang ada .

Permasalahan kaya akan program tapi miskin implementasi yang sampai saat ini melanda negeri ini, merupakan salah satu permasalahan serius yang harus disikapi dengan bijak. Kaum muda dituntu hadir untuk memberikan warna yang ada. Keberadaan kaum muda yang dianggap idealis dan cenderung netral dari berbagai faktor kepentingan membuat gerakan yang dilakukan kaum muda menghadirkan simpati yang cukup besar dari masyarakat. Hadirnya kaum muda sebagai kreator yang inspiratif diharapkan dapat menjadi pencerah kebuntuan dari sebuah kran yang tersumbat  dan membuat kehidupan rakyat semakin terpuruk.
Peran pemuda diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memberikan pembelajaran kepada khalayak luas, yang mengarah pada bagaimana peranan kaum muda dalam menciptakan gebrakan baru dalam memecah suatu persoalan.


Dengan menciptakan “KARYA” pemuda dapat menjadi pelopor mencerdaskan pemahaman publik tentang sejumlah isu-isu yang berkembang. Pemuda adalah agen kritikus yang membangun sekaligus berada dalam garda paling depan penciptaan perubahan sosial masyarakat.  Dengan semangatnya yang tinggi, pemuda adalah ujung tombak penciptaan peradaban yang lebih baik lagi.

C.    KONDISI GEOGRAFI SULAWESI SELATAN

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 45.764,53 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.
Luas Wilayah Sulawesi Selatan 46.717,48 km2 dengan Jumlah Penduduk 2009 sekitar 8,3 Juta Jiwa. Sampai dengan Mei 2010, jumlah penduduk di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak 8.032.551 jiwa dengan pembagian 3.921.543 orang laki-laki dan 4.111.008 orang perempuan. Secara administratif Sulawesi Selatan terdiri terdiri dari 24 Kabupaten/Kota yaitu 21 kabupaten dan 3 kotamadya yang memiliki 4 suku daerah yaitu suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

D.    SUMBER DAYA ALAM

Manajemen pengembangan sumber daya alam dalam aspek revitalisasi pertanian, kehutanan/perkebunan dan perikanan serta peternakan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani, baik petani hutan,petani ikan,maupun petani ternak, disamping untuk meningkatkan daya saing produk-produk pertanian, kehutanan, perikanan dan peternakan juga untuk menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkunga hidup. Tantangan besar yang dihadapi adalah bertambahnya penduduk yang tidak dibarengi dengan bertambahnya lahan pertanian, namun disisi lain pertambahan  penduduk berarti juga bertambahnya tenaga kerja yang berarti prospek besar bagi kemajuan produksi.

Revitalisasi pertanian, perikanan perkebunan  dan peternakan diharapkan dapat mengurangi  kemiskinan dan pengangguran  serta meningkatkan daya saing produk. Pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan  terutama melalui pengelolaan konservasi/pengelolaan pertanahan/tata ruang dan keagrariaan, serta dapat mendorong pengembangan usaha/penerapan teknologi dan kelembagaan yang ramah lingkungan. 
Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai potensi sumber daya  alam yang didukung kondisi lahan dan iklim yang sesuai bagi pengembangan pertanian. Potensi-potensi yang ada tersebut mendukung program-program yang dikembangkan di sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan guna menciptakan terpenuhinya kebutuhan pangan  bagi masyarakat Sulawesi Selatan itu sendiri.

E.    POTENSI SUMBER DAYA IKLIM

Pertanian yang menjadi segmen penting bagi pembangunan Indonesia memiliki ketergantungan pada kondisi iklim dan cuaca. Semakin stabil kondisi atmosfernya, maka akan stabil pula produksi pertaniannya. Jika sebaliknya, maka akan terjadi penurunan produksi pertanian yang berujung pada terhambatnya fungsi pembangunan.

Potensi iklim di Sulawesi Selatan untuk pembangunan pertanian cukup mendukung. Wilayah pengembangan dikelompokkan menjadi 3 bagian berdasarkan kesamaan relatif zona iklimnya yaitu Sektor Barat, Timur dan Peralihan. Sektor Barat dipengaruhi oleh angin barat, dan sektor timur dipengaruhi oleh angin timur yang sangat erat berkaitan dengan musim hujan dan musim kemarau.

Di sektor barat meliputi beberapa wilayah yang sebagian besar berada di bagian barat Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Kota Pare-pare, Kota Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto dan Selayar. Musim hujan di wilayah sektor barat berlangsung bulan Oktober sampai dengan Maret, dimana pada saat yang bersamaan di sektor timur berlangsung musim kemarau.

Zona iklim sektor timur meliputi wilayah-wilayah yang sebagian besar berada di bagian timur Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Sidenreng Rappang, dan Pinrang. Musim hujan di wilayah sektor timur berlangsung bulan April hingga September, dan sementara itu di sektor barat berlangsung musim kemarau. Sektor peralihan merupakan wilayah peralihan antara sektor barat dan timur meliputi kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu utara,Luwu timur, Enrekang dan kota Palopo.

Dua parameter cuaca yaitu curah hujan dan temperatur, menjadi ukuran bagi kestabilan atmosfe.. Jumlah curah hujan dan distribusinya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, melalui kontribusinya terhadap ketersedian airdalam tanah. Data curah hujan akan sangat membantu dalam rangka meramalkan pola curah hujan ke depan, dan memberi gambaran kemungkinan kejadian banjir dan kekeringan yang pada gilirannya akan bermanfaat bagi penentu kebijakan menyusun program antisipatif guna menghindari peristiwa-peristiwa iklim yang merugikan pembangunan pertanian. Dengan demikian, data iklim itu penting diinventarisir, dan selanjutnya diproses/diolah agar berdayaguna.

Pola curah hujan masing-masing zona iklim di Sulawesi Selatan : Berdasarkan klasifikasi iklim Oldemen, di Sulawesi Selatan terdapat 13 tipe iklim yairu A, B1, B2, C1, C2, C3, D1, D2, D3, E1, E2, E3 dan E4. Keragaman tipe iklim antardaerah di Sulawesi Selatan mengindikasikan bahwa gugus pulau di wilayah ini berpotensi besar untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian.

F.    SUMBER DAYA LAHAN

Menurut BPS 2008, Potensi sumber daya pertanian di Sulawesi Selatan cukup besar dalam rangka mendukung sektor pertanian. Lahan yang tersedia untuk pengembangan pertanian tanaman semusim lahan basah ± 2 juta ha, pertanian tanaman tahunan sekitar ± 1 juta ha.  Optimalisasi penggunaan sumber daya lahan merupakan suatu alternatif untukmeningkatkan produktivitas lahan. Penggunaan lahan di Sulawesi Selatan umumnya masih didominasi untuk usaha pertanian baik untuk tanaman semusim maupun tanaman tahunan selain untuk peternakan an perikanan. Keragaman penggunaan lahan dan kegiatan pertanian di suatu wilayah akan terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan kondisi agroekosistem yang berkaitan dengan aspek iklim dan tanah sebagai penentu terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Ketersediaan data inventarisasi dan identifikasi potensi sumberdaya lahan melalui pemetaan tanah  di Sulawesi Selatan sangat terbatas dan belum tersedia secara detail. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan/penelitian lebih lanjut untuk memetakan tanah secara detail. Identifikasi potensi sumber daya lahan bertujuan untuk (1) mengetahui kualitas dan karakteristik lahan serta potensinya, (2) menentukan strategi pengembangan wilayah, dan (3) menerapkan teknologi pengelolaannya. Hasil pemetaan lahan selanjutnya digunakan untuk kegiatan evaluasi lahan untukmenentukan kelas kesesuaian lahan yang dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan pertanian di Sulawesi Selatan.

G.    PEMAMFAATAN POTENSI  DAERAH

Provinsi Sulawesi Selatan memiliki potensi wilayah yang sangat luas dengan didukung sumber daya manusia. Masyarakatnya sebagian besar menggantungkan hidupnya di bidang pertanian.   Perkebunan adalah sektor andalan dengan berbagai jenis komoditas, antara lain kelapa sawit, kelapa hibrida, kakao, kopi, lada, vanili, tebu, karet, teh, jambu mete dan kapas. Dari semuanya, kakao dan kopi adalah komoditas primadona. Sentra produksi kakao terdapat di Kabupaten  Bone, Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Wajo, Pinrang, dan Sinjai. Primadona lainya adalah kopi.  Sentra produksi kopi terdapat di Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang.

Potensi sektor perikanannya terdiri atas perikanan laut, perairan darat dan perairan umum. Komoditi perikanannya ikan tuna segar/beku, ikan kerapu dan ikan kakap,. Produk kelautan lainnya adalah rumput laut. Saat ini Sulawesi Selatan merupakan sentral pengembangan produksi rumput laut di Indonesia, khususnya untuk jenis glacillaria dan E Cottoni, masing-masing memberikan kontribusi 58% dan 36% terhadap produk rumput laut nasional.

Salah satu faktor yang mendorong tingginya PDRB Provinsi Sulawesi Selatan adalah sektor pertambangan. Produksinya mencakup emas, mangan, besi, pasir besi, granit, timah hitam, batu nikel sebagai produk unggulannya. Produksi terdapat di Kabupaten Luwu Timur dan Luwu Utara. Sebagai tujuan investasi, provinsi ini juga memiliki berbagai sarana dan prasarana penunjang diantaranya Kawasan Industri Makassar yang terletak di Makassar-Sulawesi Selatan, Bandara Hasanuddin di Makasar, Bandara Pongtiku di Tana Toraja, Bandara Andi Jemma di Masamba, Bandara Mappalo Ulaweng di Bone dan Bandara Tampa Padang di Mamuju serta memiliki Pelabuhan Bajoe / Bone, Pelabuhan Awerange / Barru, Pelabuhan, Pelabuhan Sinjai, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Palopo dan Pelabuhan Pare-Pare.

Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil tanaman pangan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Predikat sebagai lumbung padi nasional mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai produsen tanaman pangan yang cukup potensial terutama komoditas padi dan jagung sebagai komoditas tanaman pangan andalan. Untuk itu pemerintah telah berusaha mengoptimalkan produksi guna mencapai target sasaran tersebut, baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi.

Hal ini dibutikan dengan besarnya perhatian pemerintah daerah pada sektor ini dengan mencanangkan Program Surplus Beras Dua Juta ton dan Surplus Jagung 1,5 juta ton. Dengan luas wilayah 45.764,53 km2 (DATA BPS 2008), Sulawesi Selatan memiliki sumber daya lahan dan iklim (jenis tanah, bahan induk, fisiologi dan bentuk wilayah, ketinggian tempat, dan iklim) yang sangat bervariasi. Keragaman karakteristik sumber  daya lahan dan iklim merupakan potensi untuk memproduksi komoditas pertanian unggulan di masing-masing wilayah sesuai dengan kondisi agro ekosistemnya.

Semoga uraian-uraian di atas dapat menjadi alternatif pemikiran untuk pengembangan pertanian yang berkelanjutan  demi meningkatkan produksi secara efektif dalam upaya mencapai tingkat kesejahteraan rakyat di Sulawesi Selatan pada khususnya dan NKRI pada umumnya.

H.    PROGRAM  PENGEMBANGAN KOMODITAS DAN POLA TANAM

Dengan predikat sebagai lumbung pangan maka Sulawesi Selatan juga dijadikan sebagai daerah penyanggah stok pangan nasional. Selain itu Sulawesi Selatan dikenal pula sebagai salah satu daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia. Berbagai komoditas penting lainnya seperti kakao, kopi arabika, kelapa, kelapa sawit, tebu, lada, kapas juga berperan penting dalam menopang tatanan perekonomian daerah. Selain itu terdapat pula berbagai komoditas buah-buahan dan sayuran yang kontribusinya cukup berarti dalam pembangunan pertanian. Pertanaman jagung dikembangkan pada wilayah yang cukup luas yaitu di berada di
Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Bone, Soppeng, Wajo.

Sementara untuk komoditas padi hampir dapat dijumpai di semua daerah, namun pengembangannya terutama difokuskan di daerah Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, dan Luwu (BOSOWASIPILU). Pengembangan tanaman Kakao diarahkan ke daerah Luwu dan Pinrang yang kondisi iklimnya relatif basah, curah hujan tinggi dan merata. Kopi arabika dikembangkan di daerah ketinggian > 1.000 m dpl, antara lain di daerah Tana Toraja, Toraja Utara, Enrekang, Sinjai, dan Luwu. Pengembangan kelapa sawit ditujukan ke daerah-daerah relatif basah meliputi Luwu, Sinjai, dan Bulukumba. Unutk komoditas tebu, wilayah pengembangannya diarahkan di wilayah-wilayah dengan jumlah bulan kering tegas antara lain di daerah Takalar, Gowa dan Bone. Demikian pula dengan kapas diarahkan ke daerah-daerah relatif kering (tegas), seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Bone, Soppeng, dan Wajo. Sayuran dan buah-buahan dataran tinggi diarahkan ke daerah ketinggian seperti Enrekang, Gowa (Malino) dan Sinjai serta beberapa wilayah dataran rendah.

Kriteria yang digunakan dalam pengelompokan pengembangan komoditas tersebut di atas adalah fisiografi, tanah, bentuk wilayah (kelerengan), tipe iklim (curah hujan, jumlah bulan basah dan bulan kering) dan ketinggian tempat serta arahan pengwilayahan komoditas nasional. Diharapkan dengan penetapan komoditas unggulan pada suatu wilayah akan meningkatkan efisiensi usahatani dan memacu perdagangan antar daerah.

Pola tanam yang diterapkan oleh petani di Sulawesi Selatan didasarkan pada kondisi curah hujan dan hubungannya dengan tipologi lahan. Pada lahan beririgasi teknis umumnya diterapkan pola tanam IP 300 yaitu pola tanam palawija (jagung, kacang-kacangan) sesudah menanam padi. Selain itu sebagian petani juga menerapkan pola tanam mina padi yang dilakukan sesudah menanam palawija (jagung) atau padi. Pola tanam lahan tadah hujan yang terkendala dengan ketersediaan air, pola tanam yang dilakukan adalah penerapan IP 200 antara padi dan palawija atau pakan ternak. Untuk lahan kering, pola tanam yang diterapkan umumnya hanya menanam pertanaman monokultur palawija.

Pada tipologi lahan tadah hujan dan lahan kering diterapkan pula pola tanam tumpang sari antara tanaman jagung dan kacang-kacangan. Pola tanam tumpangsari dapat meningkatkan pendapatan petani dan memperkecil resiko gagal panen. Selain itu pada beberapa tempat, petani juga mempraktIkkan pola tanam tumpangsari antara tanaman kapas dan dan palawija (jagung dan kacang-kacangan). Nappu et al. (1990) melaporkan bahwa pola tumpangsari antara kapas dan kacang hijau dapat meningkatkan pendapatan petani sebesar 20% – 30%

I.    SITEM EKONOMI KERAKYATAN

Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat.Dimana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan  yang dengan secara swadaya mengelola sumberdaya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan dan dikuasainya, yang selanjutnya disebut sebagai Usaha Kecil dan Menegah (UKM) terutama meliputi sektor pertanian, peternakan, kerajinan, makanan, dsb., yang ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan keluarganya tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat lainnya.

Secara ringkas Konvensi ILO169 tahun 1989 memberi definisi ekonomi kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat local dalam mempertahan kehidupannnya. Ekonomi kerakyatan ini dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat local dalam mengelola lingkungan dan tanah mereka secara turun temurun.

Aktivitas ekonomi kerakyatan ini terkait dengan ekonomi sub sisten antara lain pertanian tradisional seperti perburuan, perkebunan, mencari ikan, dan lainnnya kegiatan disekitar lingkungan alamnya serta kerajinan tangan dan industri rumahan. Kesemua kegiatan ekonomi tersebut dilakukan dengan pasar tradisional dan berbasis masyarakat, artinya hanya ditujukan untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya sendiri. Kegiatan ekonomi dikembangkan untuk membantu dirinya sendiri dan masyarakatnya, sehingga tidak mengekploitasi sumber daya alam yang ada.

Gagasan ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya alternatif dari para ahli ekonomi Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh negara negara berkembang termasuk Indonesia dalam menerapkan teori pertumbuhan. Penerapan teori pertumbuhan yang telah membawa kesuksesan di negara negara kawasan Eropa ternyata telah menimbulkan kenyataan lain di sejumlah bangsa yang berbeda. Salah satu harapan agar hasil dari pertumbuhan tersebut bisa dinikmati sampai pada lapisan masyarakat paling bawah, ternyata banyak rakyat di lapisan bawah tidak selalu dapat menikmati cucuran hasil pembangunan yang diharapkan itu. Bahkan di kebanyakan negara negara yang sedang berkembang, kesenjangan sosial ekonomi semakin melebar. Dari pengalaman ini, akhirnya dikembangkan berbagai alternatif terhadap konsep pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi tetap merupakan pertimbangan prioritas, tetapi pelaksanaannya harus serasi dengan pembangunan nasional yang berintikan pada manusia pelakunya.

Pembangunan yang berorientasi kerakyatan dan berbagai kebijaksanaan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa konsep, ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya untuk lebih mengedepankan masyarakat. Dengan kata lain konsep ekonomi kerakyatan dilakukan sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan dengan lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat. Menurut Guru Besar, FE UGM ( alm ) Prof. Dr. Mubyarto, sistem Ekonomi kerakyatan adalah system ekonomi yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguhpada ekonomi rakyat Dalam praktiknya, ekonomi kerakyatan dapat dijelaskan juga sebagai ekonomi jejaring ( network ) yang menghubung – hubungkan
sentra – sentra inovasi, produksi dan kemandirian usaha masyarakat ke dalam suatu jaringan berbasis teknologi informasi, untuk terbentuknya  jejaring pasar domestik diantara sentara dan pelaku usaha masyarakat.

Sebagai suatu jejaringan, ekonomi kerakyatan diusahakan untuk siap bersaing dalam era globalisasi, dengan cara mengadopsi teknologi informasi dan sistem manajemen yang paling canggih sebagaimana dimiliki oleh lembaga “ lembaga bisnis internasional, Ekonomi kerakyatan dengan sistem kepemilikan koperasi dan publik. Ekomomi kerakyatan sebagai antitesa dari paradigma ekonomi konglomerasi berbasis produksi masal ala Taylorism. Dengan demikian Ekonomi kerakyatan berbasis ekonomi jaringan harus mengadopsi teknologi tinggi sebagai faktor pemberi nilai tambah terbesar dari proses ekonomi itu sendiri. Faktor skala ekonomi dan efisien yang akan menjadi dasar kompetisi bebas menuntut keterlibatan jaringan ekonomi rakyat, yakni berbagai sentra-sentra kemandirian ekonomi rakyat, skala besar kemandirian ekonomi rakyat, skala besar dengan pola pengelolaan yang menganut model siklus terpendek dalam bentuk yang sering disebut dengan pembeli .
Berkaitan dengan uraian diatas, agar sistem ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada tingkat wacana, sejumlah agenda konkret ekonomi kerakyatan harus segera diangkat kepermukaan. Secara garis besar ada lima agenda pokok ekonomi kerakyatan yang harus segera diperjuangkan. Kelima agenda tersebut merupakan inti dari poitik ekonomi kerakyatan dan menjadi titik masuk ( entry point) bagi terselenggarakannya system ekonomi kerakyatan dalam jangka panjang =
Peningkatan disiplin pengeluaran anggaran dengan tujuan utama memerangi praktIk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya;  Penghapusan monopoli melalui penyelenggaraan mekanisme ; persaingan yang berkeadilan ( fair competition) ; Peningkatan alokasi sumber-sumber penerimaan negara kepada pemerintah daerah.;  Penguasaan dan redistribusi pemilikan lahan pertanian kepada petani penggarap ; Pembaharuan UU Koperasi dan pendirian koperasi-koperasi dalam berbagai bidang usaha dan kegiatan.

Yang perlu dicermati peningkatan kesejahteraan rakyat dalam konteks ekonomi kerakyatan tidak didasarkan pada paradigma lokomatif, melainkan pada paradigma fondasi. Artinya, peningkatan kesejahteraan tak lagi bertumpu pada dominasi pemerintah pusat, modal asing dan perusahaan konglomerasi, melainkan pada kekuatan pemerintah daerah, persaingan yang berkeadilan, usaha pertanian rakyat sera peran koperasi sejati, yang diharapkan mampu berperan sebagai fondasi penguatan ekonomi rakyat. Strategi pembangunan yang memberdayakan ekonomi rakyat merupakan strategi melaksanakan demokrasi ekonomi yaitu produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dan dibawah pimpinan dan pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat lebih diutamakan ketimbang kemakmuran orang seorang. Maka kemiskinan tidak dapat ditoleransi sehingga setiap kebijakan dan program pembangunan harus memberi manfaat pada mereka yang paling miskin dan paling kurang sejahtera. Inilah pembangunan generasi mendatang sekaligus memberikan jaminan sosial bagi mereka yang paling miskin dan tertinggal.

Ekonomi kerakyatan dicirikan dari keberpihakan terhadap kepentingan rakyat banyak. Pemanfaatan sebesar-besarnya sumber daya alam, sumber daya teknologi, sumber daya pemodalan, dan sumber daya manusia untuk kesejahteraan rakyat keseluruhan. Pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat diindikasikan dari beberapa ciri berikut:

  1. Alokasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) minimal 51% untuk program dan kegiatan yang menyejahterakan rakyat banyak.
  2. Keuntungan yang diperoleh negara dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) minimal 51% dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat banyak.
  3. Distribusi dana tersebut menyebar kesetiap desa di seluruh wilayah NKRI dengan variasi antar desa tidak lebih dari10%.
  4. Mulai dialokasikan anggaran khusus untuk mengantisipasi peningkatan resiko gagal para petani akibat climate change yang mulai terjadi saat ini dengan terdistribusi keseluruh desa di Indonesia berupa Jaminan Keberhasilan Berusaha.
  5. Peningkatan proporsi Jaminan Sosial kepada Manula, Anjal, Orang Cacat, Pengemis, Gelandangan, Pemulung dan tenaga kerja yang belum mendapat kesempatan bekerja.
  6. Menerapkan pemberdayaan partisipatif yang lebih intensif.
  7. Luasan kepemilikan lahan untuk rakyat keseluruhan dengan variasi tidak lebih dari10%.

Ciri-ciri diatas yang terangkup dalam suatu pembangunan ekonomi menjadikan pembangunan ekonomi tersebut disebut sebagai pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat atau disebut juga Ekonomi Kerakyatan. Ciri lebih lanjut dari penerapan pembangunan ekonomi kerakyatan adalah rendahnya prosentase masyarakat yang tergolong miskin atau berpendapatan kurang dari $ 2 per hari, yaitu nilai prosentase masyarakat miskinnya kurang dari 5%.

J.    PERMASALAHAN

Dari uraian di atas, dengan segala potensi yang dimiliki, Keragaman potensi sumber daya iklim dan lahan di Sulawesi Selatan, dapat memberi manfaat yang besar untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian. Akan tetapi :

  1. Dari sekian upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi pertanian pada khususnya, belum mampu mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat  petani secara signifikan.
  2. Ketika para petani tiba masa panen, semua pada mengumbar senyum kegembiraan, namun setelah menghitung biaya yang dikeluarkan, semua  pada kebingungan, besar pasak dari tiang
  3. Bagaimana menjawab keluhan petani mengenai kelangkaan pupuk, sebagai akibat tidak imbangnya antara angka produksi pupuk dengan kebutuhan riil petani?.
  4. Rumitnya birokrasi dan kebijakan. dalam hal pemamfaatan anggaran baik yang bersumber dari APBN maupun APBD yang rentan dengan penyalahgunaan serta tidak tepat sasaran.


BAB II
KEMBALI  KE ORGANIK SEBAGAI SOLUSI MENGATASI
KELANGKAAN PUPUK


A.    KELUHAN PETANI

Beberapa hari ini, seluruh media massa di Sulawesi Selatan memberitakan mengenai protes petani akibat kurangnya pupuk subsidi pada hal sudah sangat dibutuhkan oleh petani. Menjawab keluhan petani mengenai kelangkaan pupuk, kelangkaan ini akibat tidak imbangnya antara angka produksi pupuk dengan kebutuhan riil petani. Kemampuan pemerintah untuk menyediakan pupuk terbatas akibat mahalnya bahan baku yang masih impor.

Benarkah persoalan pertanian bisa diselesaikan dengan memberikan subsidi? Saat ini satu kilo pupuk urea di pasaran bisa didapat dengan harga sekitar Rp 1.600, padahal harga semestinya Rp 6.000. Bukankah pemberian subsidi ini juga rawan diselewengkan karena ada oknum yang menimbun pupuk dan menjualnya kembali dengan harga mahal? PraktIk ini akan terus terjadi karena ada banyak petani yang tetap akan membeli pupuk dengan harga mahal supaya tanamannya tidak rusak dan membuat petani gagal panen.

Bagaimana dengan gagasan untuk kembali ke pertanian organik? Jika petani memilih untuk bertani secara organik, mereka tidak akan tergantung kepada pupuk kimiawi (pupuk pabrik). Mengapa pemerintah seolah tutup mata tentang kemampuan sumber daya daerah?
Saat ini, petani semakin membutuhkan banyak pupuk kimiawi karena tanah yang mereka olah sudah jenuh. Di sisi lain, pertanian organik di Indonesia dapat menjadi suatu alternatif pemenuhan kebutuhan pangan di dalam jangka panjang yang ramah lingkungan. Namun, apakah kembali ke pertanian organik bisa semudah itu? Ya sangat mudah jawabnya. Pupuk Super Tani Sulusinya.

Sebagian petani di Indonesia terbiasa menggunakan pupuk kimiawi yang memberi respon cepat pada tanaman. Urea, misalnya, akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan cepat jika dibandingkan dengan pupuk organik.
Pemerintah, dan berbagai lembaga yang bergerak di bidang pertanian perlu menanamkan kesadaran pada masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menjaga lingkungan dengan pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis. Semua pihak perlu bersama-sama mengubah orientasi petani yang sudah terjerumus pada sistem pertanian revolusi hijau.

Produktivitas pertanian yang selama ini diupayakan dengan penggunaan benih, pupuk, dan pestisida kimia ini selain tidak ramah lingkungan juga memiskinkan petani karena mereka tidak lagi mandiri dan enggan memproduksi benih sendiri. Penyadaran ini bisa disertai promosi jika dalam jangka panjangnya pertanian organik juga memberikan keuntungan secara materi. Sebagai contoh, harga pasaran beras organik mahal. Beras biasa harganya 4.500 rupiah per kilogram sedangkan beras organik bisa mencapai 6.500 rupiah. Selain itu petani juga mendapat keuntungan tambahan karena pencemaran akibat pemakaian berlebih pupuk kimiawi dan pestisida dalam jangka panjang membahayakan kesehatan si petani, kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Pemerintah perlu memberikan prioritas pada sektor pertanian karena ada jutaan penduduk Indonesia yang bermata pencahariaan sebagai petani. Perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia menyebabkan kebutuhan pangan meningkat. Pemerintah pada saat itu menggalakkan revolusi hijau dengan penggunaan pupuk kimia sintetis, penggunaan pestisida, dan penanaman benih unggul berproduksi tinggi (hybrida).

Awalnya hal ini meningkatkan produksi pertanian tetapi setelah sekian lama pertanian ini lebih banyak menimbulkan permasalahan. Tanah yang puluhan tahun diolah dengan pupuk kimia membutuhkan lebih banyak pupuk dan apakah hasil yang mereka dapat sepadan dengan ongkos yang mereka keluarkan?
Revolusi Hijau dahulu didesain untuk menanggulangi tingginya permintaan makanan akibat pertumbuhan penduduk di paruh kedua abad ke-20 dengan pola pertanian yang menggunakan pupuk kimia, pestisida, dan benih hibrida. Dilain pihak, peningkatan produksi ini memberikan konsekwensi serius pada kondisi tanah dan dampak buruk kepada lingkungan. Hal ini menyebabkan perlunya penggunaan banyak zat-zat kimia untuk bertani di tanah yang tidak lagi subur.
Penggantian ke sistem pertanian organik memiliki dampak pada produktivitas dan efektivitas tanpa merusak lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

B.    SUPER TANI JEMBATAN EKONOMI KERAKYAT

Menyikapi fenomena serta potensi sumber daya alam diatas,maka formulator super tani dan biasa disebut SANG PEMBAWA SOLUSI dengan teknologi pupuk super taninya yang telah banyak berkontribusi dan membantu para petani terutama dalam hal penekanan biaya dan peningkatan produksi pertanian.
Mengabdi demi negara dan berjuang untuk petani adalah menjadi ungkapan sang formulator,istilah ini sudah melekat dihati para petani terutama mereka yang sudah merasakan manfaat pupuk super tani dari segi peningkatan produksi yang sangat signifikan diatas standar rata-rata petani pada umumnya,dari angaka statistik 6-7 ton untuk pengguna pada lahan persawahan dan bisa mencapai 9 bahkan 10 ton perhektarnya.

Kehadiran formulasi pupuk an-organik super tani akan dapat menjawab permasalahan para petani yang tidak hanya mengharapkan peningkatan produksi semata tapi juga dapat bernilai produktif sehingga dalam satu kali proses panen tidak hanya berhitung untuk pengembalian biaya dan dikonsumsi hingga panen berikutnya,tapi juga memiliki cadangan biaya produksi untuk musim-musim yang akan datang.

Keperihatinan yang mendalam dan sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa suplay dan droping pupuk tidak pernah singkron,para petani umumnya menjerit “PUPUK LANGKA” kata mereka,apabila sering terjadi keterlambatan dalam distribusi pupuk terhadap petani maka sudah barang tentu mereka akan mengalami GAGAL PANEN,sementar pemerintah dan instansi terkait ( pertanian, perkebunan, dan kelautan) terkesan kurang serius menyikapi permasalahan petani,begitu pula dengan data kebutuhan kelompok fiktif adanya.

Insya Allah, berbekal mutu dan kualitas produk secara perlahan namun pasti   Super Tani akan menjawab sebagian permasalahan petani,Super Tani adalah “Solusi Terbaik untuk Petani”,selama kurang lebih satu dasawarsa formulator telah banyak berbuat dan membantu mayarakat petani,begitupun para petani sangat merespon baik kehadiran pupuk Super Tani,namun birokrasi yang ada tidak jeli memanfaatkan potensi SDM dari  “ Formulator ”  begitu pula teknogi pemanfaatan pupuk (Super  Tani) yang notabene telah mendapat penghargaan dari kementerian sebagai produk terbaik tahun 2009 juga pengakuan dari beberapa pemerintah daerah, Super Tani pernah menjadi pelopor dalam menyukseskan program strategis (Program seratus hari kerja Bupati) disalah satu pemerintah kabupaten. Kacamata kami sebagai pemerhati bangsa yang peduli terhadap petani,melihat bahwa pemerintah lebih terfokus pada birokrasi yang sudah ada (Monoton) begitu juga instansi pertanian selaku otoritas pengelola tidak mau membuat terobosan baru seperti layaknya FORMULATOR SUPER TANI.

Birokrasi pemerintahan yang rumit serta instansi pertanian selaku otoritas pengelola  dana bantuan sosial yang besumber dari APBN tidak bisa memanfaatkn dana bantuan tepat saaran dan tepat guna,bahkan ironisnya banyak yang tidak sejalan dengan apa yang menjadi kebijakan memerintah daerah dan lebih terkesan,hanya mementingkan diri pribadinya sendiri. Penyuaraan dengan ungkapan “Peduli Terhadap Petani” hanya menjadi slogan belaka,dan akhirnya waktu akan berlalu dan musim akan meninggalkan para petani,apabila tidak segera disikapi dan mengambil langkah cepat maka petani kita akan MISKIN, sementara potensi wilayah Indonesia sebagai negara agraris sangat menjanjikan masyarakat indonesia untuk hidup layak di atas rata-rata, artinya masyarakat petani akan makmur.

Prospektif pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan demi pencapaian produktivitas yang bernilai produktif sehingga permasalahan para petani dapat terjawab, teknologi yang dimaksud adalah Produk Pupuk an- organik Super Tani yang tidak lagi diragukan mutu dan kualitasnya. Estimasi peningkatan produksi dari hasil analisa usaha tani melalui demplot yang dilakukan pada lahan persawahan yang diaplikasi langsung oleh petugas pertanian (PPL) dapat mencapai minimal 1 ton bahkan sampai 4 ton peningkatan produksinya dalam satu hektar,jika diaplikasikan dengan benar dan sesuai dengan dosis penggunaan serta pendapingan teknis dan dikawal baik oleh penyuluh pertanian, artinya masyarakat petani dapat berpenghasilan 3,5 juta sampai 14 juta perhektarnya dalam satu musim,apabila dilakukan pembinaan secara bertahap dan terencana oleh pemerintah selama 5 tahun maka petani akan mendapat penghasilan sepuluh kali lipat dan petani menjadi sejahtera.

Kami berharap kepada semua pihak dan kalangan untuk memberikan bantuan dan dukungannya,sehingga kalimat PEDULI TERHADAP  PETANI bukan hanya menjadi slogan belaka tapi bisa diimplementasikan,untuk itu kami selaku FORMULATOR dari produk an-organik Super Tani mengimbau kepada kita semua :
1.    Cintailah Produk Nasional
2.    Cintailah Produk Sulawesi
3.    Cintailah Produk Sendiri (Bone)
4.    Cintailah Petani Indonesia

Yang ternyata, MUTU dan KUALITAS tidak kalah bersaing dengan produk-produk nasional lainnya serta kehadiran produk pupuk an-organik Super Tani akan membantu  merubah pola pikir serta animo masyarakat petani sehingga tidak lagi tergantung pada kebisaan yang sifatnya tradisional, sehingga bisa menjadi petani-petani yang profesional dengan pemanfaatan  Formulasi Teknologi Pupuk  yang lebih efektif / efisien serta tepat sasaran, tepat guna dan tepat manfaat.
Wassalam, SUKSES PETANI dibawah lindungan ALLAH.SWT.